![]() |
| Foto : Ilustrasi / AR |
ZALNEWS - Fenomena enggan mengucapkan kata “terima kasih” setelah menerima bantuan atau kebaikan kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Meski terlihat sederhana, perilaku ini sering kali memicu kekecewaan bagi pihak yang telah menolong.
Para ahli psikologi menjelaskan bahwa ketidakmampuan atau keengganan seseorang untuk mengungkapkan rasa terima kasih bukan sekadar masalah lupa atau tidak sopan, melainkan melibatkan mekanisme psikologis yang kompleks.
Faktor-Faktor Psikologis di Balik Keengganan Berterima Kasih
Berdasarkan kajian psikologi sosial dan perilaku manusia, terdapat beberapa alasan utama mengapa seseorang merasa berat mengutarakan apresiasi:
- Ego dan Ancaman terhadap Citra Diri
Psikolog menyoroti bahwa bagi sebagian individu, mengucapkan terima kasih secara tidak langsung memaksa mereka mengakui ketergantungan pada orang lain. Individu dengan ego tinggi atau kecenderungan narsistik sering menganggap bantuan sebagai bentuk kelemahan diri, sehingga enggan mengapresiasinya agar tetap terlihat dominan dan mandiri.
- Pola Asuh dan Role Model Keluarga
Kebiasaan mengungkapkan apresiasi dibentuk sejak dini melalui lingkungan keluarga. Seseorang yang tumbuh dalam keluarga yang jarang mengekspresikan emosi positif atau tidak membiasakan norma dasar kesopanan cenderung membawa pola tersebut hingga dewasa.
- Persepsi "Entitlement" (Merasa Berhak)
Terdapat kondisi psikologis ketika seseorang merasa bantuan dari orang lain memang sudah seharusnya ia dapatkan, baik karena merasa memiliki status lebih tinggi, merasa sudah membayar (dalam konteks transaksi), atau menganggap tindakan tersebut memang kewajiban orang lain. Persepsi ini mengikis rasa menghargai atas usaha orang lain.
- Hambatan Ekspresi Emosi dan Kecerdasan Emosional
Individu yang memiliki kecerdasan emosional (emotional intelligence) rendah atau tipe kepribadian tertentu kerap mengalami canggung dan ketidaknyamanan emosional saat harus mengekspresikan rasa terima kasih secara eksplisit.
Catatan Ahli:
Mengucapkan terima kasih tidak hanya menjadi cermin etika, tetapi juga indikator kedewasaan emosional seseorang. Ketika seseorang enggan berterima kasih, hambatan terbesar biasanya ada pada ketakutan internal mereka untuk terlihat rentan di hadapan orang lain.
Dampak terhadap Hubungan Interpersonal
Ketiadaan ucapan terima kasih dapat merusak kualitas hubungan sosial. Pihak yang telah berbuat baik berisiko mengalami kekecewaan dan penurunan motivasi untuk menolong di masa mendatang. Oleh karena itu, para pakar menyarankan pentingnya melatih kebiasaan berterima kasih sebagai bentuk investasi sosial dan apresiasi atas kemanusiaan. (AR).





