az-ko

Mobile recent

Mengenal Tanjak

Redaksi
20.7.25, 20 July WIB Last Updated 2025-07-20T23:44:49Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 

Tanjak


Tanjak adalah sejenis ikat kepala tradisional Melayu yang biasanya terbuat dari kain songket, tenun, atau kain bercorak khas. Tanjak dipakai oleh kaum lelaki sebagai pelengkap pakaian adat, terutama saat acara adat, pernikahan, atau upacara kebudayaan.

Ciri khas tanjak:

  • Dibentuk dengan lipatan tertentu hingga menghasilkan bentuk segitiga atau runcing di atas kepala.

  • Biasanya memakai kain panjang yang dililit dan disusun dengan teknik khusus.

  • Motifnya sering menggunakan songket atau kain bermotif emas, menunjukkan status dan keindahan budaya.

Tanjak memiliki berbagai nama dan gaya lipatan, tergantung daerah dan status pemakainya, misalnya Dendam Tak Sudah, Ayam Patah Kepak, atau Sarang Tebuan.

Fungsinya bukan hanya sebagai penutup kepala, tapi juga melambangkan kehormatan, status sosial, dan identitas budaya Melayu.

Tanjak biasanya digunakan dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan adat, budaya, dan seremonial Melayu**, misalnya:


1. **Acara Pernikahan Adat Melayu**

   * Dipakai oleh mempelai laki-laki sebagai bagian dari busana pengantin.

   * Menandakan kehormatan dan status khusus di hari pernikahan.


2. **Upacara Adat & Kebudayaan**

   * Seperti acara pelantikan adat, pesta rakyat, penyambutan tamu agung, atau perayaan Hari Melayu.


3. **Pertunjukan Seni & Budaya**

   * Digunakan dalam tari-tarian tradisional, pementasan teater, dan festival budaya.


4. **Acara Kerajaan atau Kesultanan**

   * Dipakai oleh Sultan, Datuk, atau para bangsawan saat upacara resmi, pertemuan adat, dan acara kerajaan.


5. **Pakaian Resmi atau Seragam Komunitas Melayu**

   * Dipakai oleh tokoh adat, budayawan, atau komunitas Melayu pada pertemuan resmi dan perayaan tertentu.


6. **Festival & Karnaval Budaya**

   * Sebagai identitas budaya Melayu ketika ikut parade, karnaval, atau promosi pariwisata.


7. **Acara Keagamaan atau Hari Besar Islam**

   * Misalnya saat perayaan Maulid Nabi, Tablik Akbar, atau acara menyambut Ramadhan di beberapa daerah Melayu.

Biasanya tanjak dipadukan dengan **baju Melayu, kain samping, dan sebilah keris** (untuk acara adat resmi) supaya penampilan lebih berwibawa.

Tanjak mulai digunakan secara massal sejak era kerajaan-kerajaan Melayu, terutama sekitar abad ke-15 hingga 17, pada masa kejayaan Kesultanan Melayu Melaka dan kerajaan-kerajaan lain di Sumatera, Semenanjung Malaya, hingga Kalimantan.

Sebelumnya, kain penutup kepala sudah ada sejak zaman Sriwijaya (abad ke-7–13), tetapi belum berbentuk “tanjak” seperti yang dikenal sekarang. Baru pada masa Kesultanan Melaka, tanjak menjadi simbol status sosial dan kebangsawanan, lalu dipakai secara luas oleh rakyat, terutama saat acara resmi.

Beberapa catatan sejarah:

  • Pada masa Sultan Mansur Shah (1459–1477), tanjak menjadi bagian pakaian resmi istana, dipakai oleh raja, bangsawan, dan prajurit.

  • Setiap lipatan dan bentuk tanjak punya arti hierarki: raja, pahlawan, dan rakyat biasa memakai gaya lipatan berbeda.

  • Setelah abad ke-17, tanjak menyebar ke wilayah Riau, Siak, Palembang, hingga Kalimantan bersama pengaruh budaya Melayu-Islam.

Jadi, penggunaan massal tanjak (bukan sekadar penutup kepala) dimulai sekitar abad ke-15, ketika Melayu mulai memiliki sistem kerajaan Islam yang kuat, dan dipertahankan hingga sekarang dalam acara adat.

Catatan : Jika tulisan ini masih banyak kekurangan, silahkan tinggalkan komentar dimana link ini dibagikan. Agar menjadi koreksi Tim kami untuk kedepannya.


Ditulis Oleh : Tim IT Zal Media Group

Komentar

Tampilkan

Terkini